Minggu, 15 Oktober 2017

Ketika Seorang Wanita Mengeluarkan Cairan

Tanya:
Seorang wanita keluar cairannya sedangkan cairan tersebut tidak sama dengan darah haid, dan keluarnyapun di selain waktu haid, apakah ia shalat ataukah ia berhenti shalat?


Jawab:
Jika keberadaannya demikian maka kewajiban shalat tetap berlaku baginya, diperkecualikan kalau keluarnya di waktu-waktu haid, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berkata:

اُمْكُثِي قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتُكِ، ثُمَّ اغْتَسِلِي.

“Berhentilah (dari melaksanakan shalat) selama keberadaan waktu haidmu menghalangimu, kemudian mandilah”. Diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Dan Ummu ‘Athiyyah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا.

“Dahulu kami tidak menganggap sama sekali cairan keruh dan kekuning-kuningan setelah suci”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Abu Dawud, dan ini lafazh Abu Dawud.

Ahlul ilmi memberikan penjelasan:

إِنَّ الصُّفْرَةَ وَالْكُدْرَةَ فِي غَيْرِ أَيَّامِ الْحَيْضِ لَيْسَ بِشَيْءٍ.

“Bahwasanya cairan kekuning-kuningan dan cairan keruh pada selain hari-hari haid itu bukanlah suatu perkara (haid)”. [‘Umdatul Qariy” (3/309)].

Berkata Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Syaikh:

إِنَّ الْمَاءَ الَّذِي يَنْزِلُ مِنْ فَرْجِ الْمَرْأَةِ بَعْدَ الطُّهْرِ مِنَ الْحَيْضِ لَا يُعْتَبَرُ حَيْضًا.

“Sesungguhnya cairan yang keluar dari kemaluan wanita setelah ia suci dari haid maka tidaklah dianggap sebagai haid”. [Syarhu Kitabith Thaharah, hal. 88].

Berbeda halnya kalau cairan yang keruh dan kekuning-kuningan itu keluarnya pada waktu-waktu haid maka ia dianggap haid, Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Syaikh menjelaskan:

إِنَّ نُزُوْلَ الْمَاءِ الصُّفْرَةِ أَوِ الْكُدْرَةِ فِي زَمَنِ الْحَيْضِ وَقَبْلَ رُؤْيَةِ الطُّهْرِ فَإِنَّهُ يُعْتَبَرُ حَيْضًا.

“Sungguh keluarnya cairan yang kekuning-kuningan atau cairan keruh pada waktu haid dan sebelum terlihatnya suci maka sesungguhnya ia dianggap haid”. [Syarhu Kitabith Thaharah, hal. 88].
Wallahu A’lam.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Lantana-Kemang Pratama-Bekasi pada 20 Muharram 1439].

⛵ http://t.me/majaalisalkhidhir