Senin, 29 Mei 2017

Free Sex HAM ? 2

Tahapan yang kedua untuk menjawab tersebarnya maksiat dengan alasan bahwasanya hal itu adalah hak asasi setiap manusia adalah:

Kita wajib tahu bahwasanya Allah menciptakan manusia karena Dia ingin mereka mengingat-Nya dan bertaqwa (melaksanakan perintah dan menjauhi larangan).

Allah Yang Maha Suci berfirman:

﴿ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ الله يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ ﴾ [فاطر: 3].

“Wahai manusia, ingatlah kenikmatan Allah kepada kalian. Apakah ada pencipta selain Allah yang memberikan rezeki pada kalian dari langit dan bumi? Tiada sesembahan yang benar selain Dia, maka kemanakah kalian dipalingkan?”

Dan Allah ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ [النساء:1].

“Wahai manusia, bertaqwalah kalian pada Robb kalian Yang menciptakan kalian dari satu jiwa, dan menciptakan darinya istrinya, dan menyebarkan dari keduanya lelaki yang banyak dan wanita yang banyak. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah Yang kalian saling meminta dengan-Nya dan peliharalah hubungan kekerabatan. Sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi kalian.”

Dzikir dan taqwa adalah bagian dari ibadah. Dan memang ibadah itulah tujuan mereka diciptakan. Allah Jalla Wa’azza berfirman:

﴿وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون إن الله هو الرزاق ذو القوة المتين﴾

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan dari mereka rizqi dan Aku tidak menginginkan dari mereka untuk mereka memberiku makan. Sesungguhnya Allah, Dia itulah Yang Maha Memberikan Rizqi, Pemilik kekuatan lagi Maha kokoh." (QS. Adz Dzariyat: 56-58).

Al Imam Ibnu Katsir –semoga Allah merohmati beliau- berkata: “Yaitu: hanyalah Aku menciptakan mereka itu untuk Aku memerintahkan mereka agar mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku memerlukan mereka.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 425).

Allah ta’ala berfirman:

﴿ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴾ [البقرة: 21، 22].

“Wahai manusia, sembahlah Robb kalian Yang menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. Dialah Yang menjadikan untuk kalian itu bumi sebagai hamparan, langit sebagai bangunan, dan menurunkan air dari awan, lalu Dia mengeluarkan dengan itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan untuk Allah padahal kalian tahu (bahwasanya Allah tidak punya tandingan).”

Maka jelaslah bahwasanya Allah menciptakan manusia dan jin bukan untuk bermain-main, tapi untuk tugas yang besar, yaitu beribadah pada-Nya semata.

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi itu untuk kebatilan, dan tidaklah Dia menciptakan manusia itu untuk kesia-siaan, dan tidaklah Dia membiarkan manusia telantar dan tidak berguna. Allah ta’ala berfirman:

﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ﴾ [المؤمنون/115]

“Maka apakah kalian menyangka bahwasanya Kami menciptakan kalian itu untuk kesia-siaan, dan bahwasanya kalian itu tidak akan kembali kepada Kami?”
Yaitu: (kalian menyangka bahwa) kalian diciptakan bukan untuk suatu alasan, ataupun hikmah, ataupun peribadatan kepada-Ku dan tanpa adanya balasan dari-Ku untuk kalian? Dan sungguh Allah ta’ala telah terang-terangan menyebutkan ini di dalam firman-Nya:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Maka ibadah itu adalah tujuan yang mana jin, manusia dan seluruh makhluq itu diciptakan untuk itu. Allah ta’ala berfirman:

﴿أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى﴾ [القيامة/36]

“Apakah manusia itu menyangka bahwasanya mereka dibiarkan tersia-sia?”
Yaitu: sia-sia tidak berguna?”
(Selesai dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 98).

Allah ta’ala berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ * مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ﴾ [الدخان/38، 39]

“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa saja yang ada di antara keduanya itu untuk bermain-main. Tidaklah Kami menciptakan keduanya kecuali dengan kebenaran, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.”

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan yang benar adalah bahwasanya KEBENARAN itu adalah ilahiyyah Allah (hak untuk diibadahi), hikmah-Nya (meletakkan segalanya tepat pada tempatnya) yang mengandung penciptaan, perintah, pahala, dan hukuman. Maka sumber dari itu semua adalah kebenaran, dengan kebenaranlah itu semua terwujud, dengan kebenaranlah itu semua tegak. Tujuannya adalah kebenaran, dan dengan kebenaranlah itu semua menjadi lurus.” (“Miftah Daris Sa’adah”/2/hal. 85).

Jika kita tahu bahwasanya kita adalah milik Allah, dan Dia menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya, maka seharusnya kita tunduk pada peraturan-Nya, dan tidak sembarangan membuat peraturan sendiri, apalagi sampai merusak fitrah manusia, merubah yang haram jadi halal dan sebaliknya.
Jika seseorang telah mengetahui bahwasanya dirinya diciptakan agar dia mau beribadah pada Allah ta’ala, maka dia harus berusaha memenuhi hak dan keinginan Allah, Penciptanya. Allah ta’ala berfirman:

﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾.

“Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan.”

Ibadah adalah hak Allah yang wajib kita penuhi, sementara pertolongan adalah hak hamba yang akan Allah berikan. Di sini Allah mendahulukan hak Sang Pencipta, baru menyebutkan hak para makhluk. Maka hak Sang Pencipta didahulukan daripada hak para makhluk.

Dan dari Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه yang berkata:

كنت ردف النبي ﷺ على حمار يقال له عفير، فقال: «يا معاذ هل تدري حق الله على عباده وما حق العباد على الله؟» قلت: الله ورسوله أعلم. قال: «فإن حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئاً». فقلت: يا رسول الله أفلا أبشر به الناس؟ قال: «لا تبشرهم فيتكلوا».

“Dulu saya pernah diboncengkan oleh Nabi ﷺ di atas seekor keledai yang dipanggil dengan: ‘Ufair, lalu beliau bersabda: “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah terhadap para hamba-Nya, dan apakah hak para hamba terhadap Allah?” Saya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Maka sesungguhnya hak Allah terhadap para hamba adalah: mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya. Dan hak para hamba terhadap Allah adalah Dia tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.” Maka saya bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah boleh saya memberitakan kabar gembira ini pada orang-orang?” Beliau bersabda: “Janganlah engkau sampaikan berita gembira ini pada mereka karena mereka nanti akan bergantung padanya.” (HR. Al Bukhoriy (2856) dan Muslim (30)).

Ini adalah dalil yang sangat jelas, bahwasanya hamba itu harus memenuhi hak Allah ta’ala sebelum menuntut hak dirinya sendiri.Maka tidak layak sama sekali untuk seseorang berbuat maksiat sebagaimana yang disebutkan pada pembahasan di atas, lalu dia berkata: “Ini adalah hak asasi kami, terserah kami mau berbuat apa yang kami sukai!”

Jawaban: Kita semua adalah hamba Allah ta’ala, kepunyaan Allah, makan dan minum serta tinggal di bumi Allah, dan seluruh fasilitas yang kita pakai adalah milik Allah. Maka kita wajib untuk tunduk dan taat pada Allah, Pencipta dan Penguasa kita. Harusnya kita malu berteriak-teriak menuntut hak asasi untuk berbuat maksiat (padahal bukan hak kita sama sekali), tapi kita melalaikan kewajiban asasi untuk tunduk dan tidak sombong pada Penguasa alam semesta.

Barangsiapa lupa diri, ingin bebas dari syariat seperti binatang (padahal binatangpun tidak benar-benar bebas), dan justru menyombongkan diri pada Allah, maka hukuman Allah sangatlah pedih.

Allah ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".

Dan Allah ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ﴾.

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti gaya makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.”

Maka hendaknya setiap hamba bertanya pada diri sendiri: sudahkah dia memenuhi hak dan keinginan Sang Pencipta terhadap dirinya?

والله أعلم بالصواب.
والحمد لله رب العالمين.