Pertanyaan: Apa nasihat Anda tentang merebaknya freesex di sebagian Negara kaum Muslimin dengan alasan bahwasanya hal itu adalah bagian dari hak asasi manusia?
Jawaban dengan memohon pertolongan pada Allah semata:
Masalah ini akan dijawab dengan dua tahap karena agak panjang.
Tahap pertama:
Sesungguhnya Allah ta’ala telah memerintahkan para hamba untuk menikah baik-baik demi meletakkan syahwatnya pada sesuatu yang halal, dan untuk mengusahakan adanya keturunan yang baik.
Allah ta’ala berfirman:
﴿فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا﴾.
“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
Dan pernikahan adalah jalan hidup para Rosul عليهم السلام.
Allah ta’ala berfirman:
﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً﴾.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.”
Semua itu adalah untuk menyalurkan syahwat manusia agar diletakkan pada yang halal, sehingga mereka mendapatkan pahala, dan selamat dari penyaluran yang haram karena akan mendatangkan dosa.
Di dalam hadits Abu Dzarr رضي الله عنه yang menyebutkan:
قال رسول الله ﷺ: «... وفي بضع أحدكم صدقة». قالوا: يا رسول الله أياتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ قال: «أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه فيها وزر ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر».
Rosululloh ﷺ bersabda: “... dan di dalam hubungan suami-istri salah seorang dari kalian itu ada sedekah.” Mereka bertanya: “Wahai Rosulullah, apakah salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya dan dirinya mendapatkan pahala di dalamnya? Beliau menjawab: “Apa pandangan kalian jika dia meletakkan syahwatnya itu di dalam perkara yang haram, apakah dia mendapatkan dosa di dalamnya? Maka seperti itu pula jika dia meletakkannya di dalam perkara yang halal, dia akan mendapatkan pahala di dalamnya.”
(HR. Muslim (1006)).
Maka barangsiapa menyalurkan syahwatnya pada perzinaan, dia itu berdosa besar.
Allah ta’ala berfirman:
﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ * فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ﴾.
“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
Dan orang tadi telah menempuh jalan yang buruk dan dimurkai Allah.
Allah ta’ala berfirman:
﴿وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا﴾.
“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
Sedemikian kejinya perzinaan hingga pelakunya tidak layak menikah dengan orang-orang yang beriman. Allah ta’ala berfirman:
﴿الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ﴾.
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”
Lelaki perjaka yang berzina hukumannya adalah dicambuk seratus kali. Begitu pula gadis yang berzina. Ini untuk orang-orang yang merdeka. Dan setengah dari itu untuk para hamba sahaya.
Allah ta’ala berfirman:
﴿الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ الله إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾.
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah, jika kalian beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”
Adapun jika orang merdeka tadi telah pernah menikah maka hukumannya jika berzina adalah dirajam dengan batu sampai mati, sebagaimana dalam hadits-hadits shohih dan ijma’ ulama.
Dan perzinaan itu termasuk sebab tersebarnya penyakit-penyakit di dunia.
Ibnu Umar رحمه الله berkata:
كنت عاشر عشرة في مسجد رسول الله ﷺ، أبو بكر، وعمر، وعثمان، وعلي، وابن مسعود، وحذيفة، وابن عوف، وأبو سعيد الخدري رضي الله عنهم، فجاء فتى من الأنصار فسلم على رسول الله ﷺ ثم جلس فقال: يا رسول الله أي المؤمنين أفضل؟ قال: «أحسنهم خلقا» قال: فأي المؤمنين أكيس؟ قال: «أكثرهم للموت ذكراً، وأحسنهم له استعداداً قبل أن ينزل بهم، أولئك من الأكياس» ثم سكت الفتى، وأقبل عليه النبي ﷺ فقال: «يا معشر المهاجرين خمس إن ابتليتم بهن ونزل فيكم، أعوذ بالله أن تدركوهن: لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعملوا بها إلا ظهر فيهم الطاعون والأوجاع التي لم يكن مضت في أسلافهم، ولم ينقصوا المكيال و الميزان إلا أخذوا بالسنين وشدة المؤنة وجور السلطان عليهم، ولم يمنعوا الزكاة إلا منعوا القطر من السماء ولولا البهائم لم يمطروا، ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله إلا سلط عليهم عدوهم من غيرهم وأخذوا بعض ما كان في أيديهم، وما لم يحكم أئمتهم بكتاب الله إلا ألقى الله بأسهم بينهم» الحديث.
“Aku pernah menjadi orang kesepuluh di masjid Rosululloh ﷺ , Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Ibnu ‘Auf, dan Abu Sa’id Al khudriy رضي الله عنهم . lalu datanglah anak muda dari Anshor, lalu dia mengucapkan salam pada Rosululloh ﷺ , lalu duduk seraya berkata: “Wahai Rosululloh, siapakah mukmin yang paling utama?” beliau menjawab: “Yang paling bagus di antara mereka akhlaqnya.” Dia bertanya lagi: “Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling cerdas?” beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan paling bagus persiapan untuk itu sebelum kematian itu turun pada mereka. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” Lalu anak muda itu diam.
Dan Nabi ﷺ menghadap ke arahnya seraya berkata: “Wahai orang-orang Muhajirin, ada lima perkara yang jika kalian diuji dengannya dan turun di antara kalian, aku berlindung pada Allah untuk kalian menjumpai lima perkara itu: tidaklah kekejian itu nampak di suatu kaum sama sekali hingga mereka mengerjakannya kecuali akan nampak pada mereka wabah Tho’un dan penyakit-penyakit yang belum datang pada para pendahulu mereka. Dan tidaklah takaran dan timbangan mereka kurangi kecuali mereka akan dihukum dengan tahun-tahun paceklik, beratnya tanggungan hidup, dan kezholiman penguasa. Dan tidaklah mereka menahan zakat kecuali mereka akan terhalangi dari hujan. Seandainya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tak akan diberi hujan. Dan tidaklah membatalkan perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rosul-Nya kecuali akan dikuasakan pada mereka musuh mereka dari luar kalangan mereka, mereka akan mengambil sebagian kekuasaan yang dulu ada di tangan mereka. Dan tidaklah para pemimpin mereka berhukum dengan Kitabulloh kecuali Allah akan melemparkan kekerasan mereka di antara mereka.” Al hadits.
(HR. Al Hakim dalam “Al Mustadrok “8688) dan yang lainnya.
Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata dalam “Ash shohihah” (1384): “Maka hadits ini hasan dengan kumpulan jalan-jalannya.” Dan dihasankan juga oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Fil Qodar” (hal. 431/cet. Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
Dan hukuman di alam kubur untuk para pezina itu sangatlah menyakitkan.
Dari Samuroh bin Jundab رضي الله عنه yang bercerita:
كان النبي ﷺ إذا صلى صلاة أقبل علينا بوجهه فقال: «من رأى منكم الليلة رؤيا؟». قال: فإن رأى أحد قصها فيقول ما شاء الله. فسألنا يوما فقال: «هل رأى أحد منكم رؤيا؟» قلنا: لا. قال: «لكني رأيت الليلة رجلين أتياني، -إلى قوله:- فانطلقنا إلى ثقب مثل التنور أعلاه ضيق وأسفله واسع يتوقد تحته نارا، فإذا اقترب ارتفعوا حتى كاد أن يخرجوا، فإذا خمدت رجعوا فيها، وفيها رجال ونساء عراة. فقلت: من هذا؟ قالا انطلق. –إلى قوله:- والذي رأيته في الثقب فهم الزناة. الحديث.
"Nabi ﷺ jika seusai sholat, beliau menghadapkan wajah beliau kepada kami seraya bersabda: "Siapakah dari kalian yang melihat suatu mimpi tadi malam?" jika ada satu orang melihat itu, dia akan bercerita, lalu Nabi menakwilkannya sesuai dengan kehendak Allah. Lalu pada suatu hari beliau bertanya pada kami: "Siapakah dari kalian yang melihat suatu mimpi tadi malam?" kami menjawab: "Tidak ada." Beliau bersabda: "Tapi aku tadi malam melihat dalam mimpi ada dua orang yang mendatangiku seraya mengambil tanganku lalu mengeluarkan aku dari tanah suci. –sampai pada sabda beliau:- Keduanya berkata: "Berangkatlah" maka kamipun berangkat lagi hingga kami mendatangi lubang seperti tanur, atasnya sempit, dan bagian bawahnya luas, di bawahnya ada api yang dinyalakan. Jika mendekati permukaan tanur, merekapun naik sampai hampir mau keluar darinya, tapi jika apinya padam, mereka kembali ke dalam. Di dalamnya ada ada pria dan wanita yang telanjang. Aku bertanya: "Apa ini?" Keduanya berkata: "Berangkatlah" –sampai pada sabda beliau:- Dan orang yang engkau lihat dia ada di dalam lubang tadi, maka mereka itu adalah para pezina.” Hingga akhir hadits. (HR. Al Bukhoriy (1386)).
Ibnu Hajar رحمه الله berkata: "Ucapan beliau: "Mereka adalah para pezina" kesesuaian ketelanjangan untuk mereka adalah karena mereka berhak untuk dibongkar kekejiannya, karena kebiasaan mereka adalah bersembunyi di tempat sepi, maka mereka dihukum dengan dibongkar aib mereka tadi. Dan hikmah datangnya siksaan dari arah bawah mereka adalah karena kejahatan mereka tadi adalah dari anggota badan mereka yang di bawah. ("Fathul Bari"/Ibnu Hajar/12/hal. 445)
Selesai tahapan pertama.
والله أعلم بالصواب.
والحمد لله رب العالمين.
