Berkata Abul Yaman :
Ketahuilah bahwa rutinitas ibadah beliau dan hubungan beliau dengan Alloh tidak diketahui secara persis, karena menyembunyikan ibadah lebih baik daripada menampakkannya, tapi kita bisa melihatnya apa yang nampak saja contohnya adalah di bulan Romadhon beliau mengimami manusia dalam satu malam 1-4 juz bahkan terkadang sampai 8 juz dan 10 juz, terkhusus pada 10 terakhir Romadhon, beliau menjadi imam dan makmum di belakang Syaikh Ahmad Al Wushoby, bahkan beliau meliburkan pelajaran dengan sebab jenazah karena keguguran, pada suatu saat jatuh khotbah jum`at selain beliau maka beliau berangkat cepat ke mesjid di awal waktu dan waktu itu jadwalku untuk mengawalnya, maka beliau membaca Al Qur`an dan aku yang menyimak 9 juz satu dudukan kemudian beliau keluar untuk buang air dan kembali kemudian menyempurnakan 15 juz di hadapan akh selainku, wallohul musta`an. Dan Allohlah yang menolongnya untuk melakukan perkara ini semua, bahkan sewaktu beliau tugas juga bersama rekannya sampai khatam satu Al-Qur`an penuh dalam sehari. Adapun waro`nya ketaqwaannya dan kezuhudannya contohnya banyak sekali dan cukuplah dalam masalah ini persaksian Syaikh Muqbil -rohimahulloh- sebagaimana yang sudah lewat.
Adapun bantahan-bantahan beliau terhadap para penyelisih manhaj salaf sangatlah terkenal dan sudah dimaklumi bersama bahkan barangkali beliau membantah dalam satu pekan lebih dari satu ahli bid`ah yang menunjukkan betapa besar kecemburuan beliau terhadap agama adapun banyaknya tuduhan-tuduhan kotor dan kedustaan-kedustaan atasnya maka syaikhnyapun telah diperlakukan sedemikian rupa dan orang-orang sholih sebelum keduanya demikian juga halnya perkara ini adalah sunnatulloh terhadap orang-orang yang sudah lewat sebelumnya dan kamu tidak akan bisa mengganti sunnatulloh ini sungguh beliau telah dituduh sebagai haddadi dan dituduh sebagai orang yang terburu-buru dan keras kepala dan dia dituduh juga kalau berbicara karena kepentingan pribadi dan tuduhan lainnya yang masih banyak maka ini adalah merupakan prasangka buruk terhadap ilmu dan ahlinya dan akan datang bantahan atas tuduhan-tuduhan ini.
KESERASIAN ANTARA SYAIKH MUQBIL DENGAN SYAIKH YAHYA
Hal ini kami utarakan bukan dalam rangka merendahkan Syaikh Muqbil rahimahullohu Ta`ala bahkan sebagai pujian untuk beliau karena berhasil mendidik muridnya yang mewarisi ilmunya dari berbagai sisi, juga sebagai bantahan terhadap para pendusta yang mengatakan bahwa Syaikh Yahya telah merubah markiznya yaitu markiz iman menjadi menara islam Darul hadits Dammaj. Memang benar telah terjadi sebagian perubahan tetapi kepada yang lebih baik dan lebih utama dan saksi yang paling kuat adalah fenomena yang ada sekarang.
DALAM BERPEGANG TEGUH DI ATAS SUNNAH.
Al Imam Wadi`i rohimahullohu ta`ala adalah penyeru kepada sunnah yang handal di Yaman tidak ada yang semisal dia di Yaman, padahal di Yaman ada yang lebih cerdas, lebih cekatan, dan lebih hapal daripada beliau, akan tetapi beliau lebih mengagungkan sunnah dan sangat giat dalam menyebarkan dan mengamalkan sunnah, dan kelebihan ini merupakan taufiq dari Alloh yang Dia anugrahkan kepada orang tertentu yang Ia kehendaki, dan perkara ini diketahui oleh semua orang kenal dengan beliau, baik yang jauh ataupun yang dekat.
Dan ketahuilah bahwa kholifahnya (penggantinya) yaitu Syaikh Yahya demikian pula halnya, masih tetap bersemangat memperjuangkan sunnah, membelanya, menyebarkannya, tegak kokoh di atasnya, dan sering kali beliau kita dengar mengatakan kepada para thullabnya: “Beramal dengan sunnah adalah barokah, beramal dengan sunnah adalah ketenangan jiwa kita, dan Alloh mensirnakan marabahaya dan kegundahan jiwa kita dengan mengamalkan sunnah”, bahkan beliau sering mengatakan: “Barangsiapa yang mengetahui sunnah yang belum kita amalkan tolong beritahu kami agar kita bisa mengamalkannya, karena dengan itu terangkat martabat seseorang sebagaimana ditegaskan oleh Syakhul Islam : “Alloh akan mengangkat seseorang dengan kadar keteguhan dia dalam memegang sunnah“, dan betapa beliau gembira dan besar sekali pengagungan beliau terhadap orang yang memegang sunnah, sebagai bukti kebenaran yang kami katakan adalah apa yang telah kita sebutkan dari sunnah-sunnah yang beliau hidupkan di samping penjagaan sunnah yang telah dihidupkan oleh Syaikh Muqbil rahimahulloh
DALAM PENYEBARAN ILMU DAN SUNNAH
Di zaman Syaikh Muqbil rahimahulloh ilmu dan sunnah dengan idzin Alloh tersebar sangat pesat baik di Yaman atau di luar Yaman, di mana tidak terdengar semenjak beberapa abad yang silam tersebarnya ilmu dan sunnah seperti yang terjadi pada zaman beliau.
Begitu pula di masa kholifahnya, ilmu dan da`wah sunnah salafiyah begitu semaraknya tersebar ke seluruh penjuru dunia, betapa banyak delegasi yang bertandang ingin mengenyam jernih dan segarnya ilmu Dammaj, kenyataan yang ada sekarang adalah sebesar-besar bukti kebenaran apa yang kami katakan dan tidak mengingkarinya kecuali orang yang tertutup mata hatinya.
KESERASIAN DALAM TAMAYYUZ
Adalah Syaikh Muqbil rahimahulloh sosok yang sangat kuat dalam memilah antara kebenaran dari kebatilan sebagaimana salaf terdahulu seperti imam Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma`in, Yahya bin Sa`id, Syaikhul Islam rahimahulloh dll .
Berapa banyak orang jahat yang beliau usir, dari kalangan ahlul bid`ah, orang hatinya berpenyakit, dan yang sejenis mereka, demi memilah dan mensucikan agar dien ini juga ma`hadnya bersih dan terhindar dari kekotoran fikroh sesat dan jahat sebagaimana para nabi ada yang mengusir pengacau dari kaumnya (Nabi Musa `Alaihish sholatu wassalam mengusir Samiri), ada yang meninggalkan kaumnya ada yang `uzlah dst.
Begitu pula kholifahnya, mengusir orang-orang yang berpenyakit jiwa atau berpenyakit bid`ah atau berpenyakit hizbi tanpa basa basi.
KESERASIAN DALAM JARH WA TA`DIL
Adapun dalam masalah Jarh wa Ta`dil dan sikap tegas dan keras terhadap ahlul bid`ah maka ini adalah bagian dari agama kita tanpa ada keraguan lagi, dan para ulama telah memberi bagian khusus dalam masalah, baik dalam kitab-kitab mereka atau contoh perilaku mereka secara nyata, dan Imam Al – Wadi`i/ berjalan di atas jalannya para Salafy sebelumnya begitu pula Syaikh Yahya tidak mengurangi bahkan memberikan porsi yang pas tidak keterlaluan dan tidak pula meremehkan lihatlah contohnya dalam kitab “Al Majruhun ‘indal Imam Al Wadi’i” yang disusun oleh Akhuna ‘Adil Ash Shiyagi -hafizhohulloh- dan kitab “Masyru’iatun Nush wat Tahdzir” mlik Syaikh Yahya kamu akan lihat antara Syaikh dan muridnya berjalan bergandengan tangan seakan-akan keduanya menyusu dari satu susuan.
DALAM PENGEMBANGAN JUMLAH THULLAB
Pada zaman Imam Muqbil/ ketika beliau meninggal jumlah thullab tidak lebih seribu lima ratus sementara dengan rahmat Alloh dan karunia-Nya di zaman kholifahnya telah bertambah berlipat-lipat hingga kini kurang lebih empat ribu thullab, begitu pula bangunan dan tempat tinggal thullab kini telah sampai ke puncak gunung Dammaj dan atap-atap rumahpun tak ketinggalan dibangun karena tidak mendapatkan area untuk dibangun, itu semua karena fadhlulloh dan barokah nasehat, keadilan, tashfiah dan tarbiyah.
PERSAMAAN DALAM KARYA TULIS
Adapun karangan-karangan kitab maka pada zaman Imam Muqbil rahimahulloh telah berhasil melahirkan karya-karya ilmiah yang menggembirakan baik dari sisi Syaikh sendiri atau dari para thullabnya, beliau wafat dengan mewariskan lebih dari lima puluh karangan, besar dan kecil, begitu pula di zaman Syaikh Yahya banyak sekali karya ilmiah dari berbagai bidang ilmu, sampai detik ini telah terbit risalah-risalah beliau lebih dari tujuh puluh karangan, besar dan kecil, dan begitu pula karya tulis thullabnya tak pernah surut dari peredaran.
Begitu pula kaset-kaset ceramah beliau dan pelajaran beliau semuanya terekam dan bakal menjadi khazanah ilmiyyah yang bermanfaat untuk ummat insya Alloh ta`aala.
PERSAMAAN DALAM PELAJARAN-PELAJARAN
Zaman Syaikh Muqbil pelajaran-pelajaran terlaksana dengan sebaik-baiknya karena beliau adalah orang yang sangat bersemangat atas terlaksanakannya pelajaran tersebut sehingga beliau tetap menjalankan tugas mengajarnya walaupun dalam keadaan sakit parah dalam keadaan yang sangat penat, dan terkadang beliau beranjak ke majelis pelajaran beliau dalam keadaan capek atau sakit parah dan beliau berkata: (Seandainya aku diberi pilihan untuk menjadi seorang president atau tetap duduk di sini bersama thullab maka aku lebih memilih untuk tetap di sini), demikian pula kondisi Syaikh Yahya hafidzohulloh wa ro`ahu ,dan perkara ini telah banyak diketahui oleh anak kecil, orang besar, kawan ataupun lawan sampai-sampai tidak terlewati setahun ataupun sebulan beliau tidak meliburkan pelajarannya yang ilmiah dan terkadang beliau menelan sekian banyak obat sakit kepala supaya bisa keluar kepelajaran beliau, karena khawatir terputus dari menutut ilmu. Dan terkadang beliau melepas infus dari badannya untuk menghadiri pelajaran. Maka kami mohon kepada Allah subahanahu wa ta`ala untuk membalasnya dengan balasan kebaikan dan kami memohon pula agar Alloh merahmati Syaikh dengan rahmat yang luas.
Demikian pula pelejaran-pelajaran yang dibuka di markiz ini yang terkadang bisa mencapai tiga puluh pelajaran dalam sehari, dibuka setiap sepekan atau dalam dua puluh hari, kadang berkurang dan kadang bertambah, dan ini adalah barokah dari Alloh, maka barang siapa yang menuduh adanya perbedaan antara ma’had di Syaikh Al-Wadi’i dan keadaan ma’had di masa kholifahnya hendaklah dia bertaqwa kepada Allah terhadap ia dirinya sendiri dan untuk menengok kembali apa yang keluar dari mulutnya, maka demi Allah kami tidaklah melihat adanya perbedaaan dan tidak pula adanya penyelisihan, bahkan yang kami lihat keduanya berjalan seiring bahkan barangkali semakin bertambah kebaikannya, dan ini perkara yang bisa saksikan dengan mata kepala kita.
KESAMAAN DALAM PENJAGAAN ILMU
Allah telah memberikan taufik kepada Imam Al-Wadi’i / untuk menghafal ilmu dan menjaga sunnah, sehingga barangkali beliau memastikan bahwa sebuah hadits tidak terdapat di “shohihain” atau di “Al Kutubus Sittah”, dan setelah diteliti terbukti kebenarannya, ini menunjukkan betapa kuat telaah dan hafalan beliau demikian pula kholifahnya, Allah memberikan taufik kepada beliau untuk menghafal Al-Qur’an dan sebagian qiroat dan banyak dari sunnah, yang hampir-hampir tidak terluput darinya satupun hadits yang ditanyakan kepada beliau, dan juga beliau hafal “Alfiyyah Ibnu Malik”, “Mulhatul I’rob”, “Lamiatul Af`al”, Matan “Ar Rohabiyyah”, Matan “`Imrithi” dalam ilmu usul ,Matan “Al ‘Aqidatuth Thohawiyyah” dll.
PERSAMAAN DALAM KETAWADHU`AN
Perkara ini nampak jelas dari keduanya, barangkali Syaikh Muqbil rahimahulloh menyambut tamu dan utusan dan memuliakan mereka, dan mengijinkan kepada anak-anak untuk membaca matan-matan yang mereka hafal sebagai penyemangat, dan berlembut hati kepada mereka dengan penuh kelembutan, menjadikan mereka seakan-akan anaknya sendiri, begitu pula halnya dengan Syaikh Yahya, dan ini perkara yang diketahui oleh semua thullabnya, terutama yang sering melihat beliau secara dekat, adapun yang belum begitu mengenalnya maka kewibawaan beliau lebih dominan menurutnya daripada kelembutan beliau.
PERSAMAAN DALAM IKATAN UKHUWWAH
Perkara ini sering dijadikan alat untuk menikam Dammaj dan Syaikh Yahya, mereka mengatakan bahwa di zaman Syaikh Muqbil sangat terjaga pesaudaraan dan ikatan ukhuwwah, sementara semenjak Syaikh Yahya memegang kendali Dammaj maka berubah total, tak ada lagi keramahan dan saling kasih, ukhuwwah tercabik-cabik adanya cuma saling curiga, caci maki, jarh watta`dil, dan tidak adanya ketenangan dalam belajar.
Kami katakan kepada pembual ini: Datanglah ke Dammaj wahai pembual niscaya kamu akan dapatkan keadaannya sangat beda dengan apa yang kamu katakan, keadaan tak ada perubahan sama sekali sebagaimana pada zaman Syaikh Muqbil rahimahulloh , kita saling mengikat tali persaudaraan dengan baik dan benar, persaudaraan karena iman dan ketaatan, ukhuwah yang dilandasi nasihat, bahkan kedekatan kami dengan ikhwah fillah melebihi ikatan kekeluargaan, hal itu terbukti banyak di antara kita yang serasa ketika melihat ada salah seorang dari ikhwah terjatuh kedalam kegelapan masing-masing kita merasa kehilangan dan merasa perlu untuk menasehati, tidak pandang apakah itu satu daerah atau lain daerah, satu Negara atau lain Negara, begitu pula diantara ikhwah yang berkulit putih menikah dengan akhowat yang berbeda warna dengannya, baik dari orang Arab atau orang A`jam, begitu pula kita saling bahu-membahu dan tolong-menolong dalam perkara dunia, maka darimana sebagian orang mengatakan bahwa kini di Dammaj hanya tinggal kenangan
Memang bagi mereka yang berpenyakit hati, atau bagi pemalas atau bagi yang tidak memiliki pemahaman salaf yang benar, Dammaj terasa sempit dan sumpek udaranya, sedikit-sedikit menggunjing orang, tahdzir demi tahdzir tak henti-hentinya. Dia tidak tahu bahwa di balik itu semua terpancar mata air yang jernih yang menghilangkan dahaga, karena semua pekara itu dibangun di atas ketaqwaan dan kebersihan jiwa, sebaliknya mereka-mereka yang keluar dari Dammaj dengan alasan di atas bahkan menelan kepahitan yang tidak henti-hentinya, karena landasan yang mereka bangun adalah kebobrokan jiwa dan ketidak mapanan mereka ketika melihat alam nyata.
Maka tak ada perbedaan sedikitpun keadaan yang ada sejak zaman syaikh Muqbil sampai saat ini, ukhuwah tetap terpelihara, saling rahmah terus bertambah, ketenangan belajar tak terusik, ni`mat Alloh terus tercurah, mahabbah fillah tak terabaikan, tinggal dari sisi mana seseorang melihat dan memperhatikan.
PARA PENYUSUN
. Abu Turob Saif bin Hadhor Al-Jawi.
. Abu Fairuz ‘Abdurrohman Al-Jawi
. Abu Husain Muhammad Al- Jawi
. Abu Arqom Muslih Zarqoni Al-Jawi
. Abu ‘Abdillah Imam Al-Hanafi Al-Balikpapani.
. Abu Sholeh Dzakwan Al Medani
. Abu Abdillah Muhammad bin Umar Al-Medani
. Abu Abdirrohman Shiddiiq Al- Bugishi
. Abu Zakariya Irham bin Ahmad Al-Jawi
. Abul ‘Abbas Khodhir Al-Mulki