Jumat, 21 April 2017

Tertawa Yang Tercela

Majaalis Al-Khidhir:
🎤 TERTAWA YANG TERCELA ☎

Tanya:
Apa hukumnya menghadiri pengajian yang pembawa pengajiannya suka tertawa keras dan suka pula membuat tawa dan lucu sampai yang mengikuti pengajian tertawa-tawa berlebihan?

Jawab:
Berpaling dari pengajian yang seperti itu modelnya adalah lebih baik dan lebih menjaga hati:

{فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ} [الأنعام : 68]

"Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai mereka beralih kepada pembicaraan yang selainnya." (Al-An'am: 68)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata:

وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Dan janganlah kamu memperbanyak tertawa karena sungguh banyak tertawa adalah mematikan hati." Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Abi Hurairah.
Dan pada asalnya tertawa adalah perkara mubah, bila seseorang tertawa sampai memperdengarkan suara kerasnya maka ini mengurangi wibawanya, lebih-lebih kalau suara tertawanya diangkat dengan sangat keras.
Model tertawa seperti ini menyelisihi kebiasaan para Nabi dan Rasul 'Alaihimush Shalatu was Salam, karena kebiasaan mereka ketika tertawa hanya dengan tersenyum yang kadang terlihat gigi seri, keadaan seperti ini biasa terjadi pada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang beliau dikenal banyak senyum, berkata Abdullah Ibnul Harits bin Jaz'in Az-Zubaidiy:

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Tidaklah aku melihat seseorang yang keberadaannya lebih banyak senyum daripada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam." Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad.

Dan pada kisah seekor semut yang memerintah kawan-kawannya untuk masuk ke dalam sarang mereka karena khawatir akan diinjak oleh Nabiullah Sulaiman dan bala tentaranya, Allah sebutkan tentang salah satu sifat Nabiullah Sulaiman 'Alaihis Salam:

{فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا} [النمل : 19]

"Maka dia tersenyum sambil tertawa dari (mendengarkan) perkataan seekor semut tersebut." (An-Naml: 19)
Tidak disebutkan bahwa beliau tertawa terbahak-bahak, apalagi setelah senyum tawa tersebut beliau ikutkan dengan berdoa:

{رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ} [النمل : 19]

"Wahai Rabbku karuniakanlah aku untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk aku mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih". (An-Naml: 19)
Termasuk adab dalam berdoa adalah bersuara rendah dan tenang, maka tidak mungkin Nabiullah Sulaiman akan tertawa terbahak-bahak sambil berdoa?!.
Dan termasuk adab yang baik bagi orang yang membacakan ayat-ayat Allah atau yang menyampaikan As-Sunnah kalau tertawa adalah cukup tersenyum atau hanya tampak gigi serinya dengan tanpa tertawa terbahak-bahak. Wabillahit Taufiq.

[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Limboro pada 18 Dzulqa'dah 1437]

⛵⛵⛵
http://t.me/majaalisalkhidhir