Senin, 14 November 2016
Biografi Asy Syaikh Al Faqih Muhammad Bin Hizam
بسم الله الرحمن الرحيم
*Perjalananku didalam Menuntut Ilmu*
*Sebuah Auto Biografi milik Asy Syaikh Al Faqih Muhammad bin Hizam Al Fadhly Al Ba'dany حفظه الله تعالى*
✍🏽 Ditulis: *Abû ‘Abdillâh Muhammad bin ‘Ali bin Hizâm Al-Fadhli Al-Ba’dâni.*
_Selesai ditulis tulisan ringkas ini pada hari Jum’at 17 Syawwâl 1437 dari Hijroh Nabawiyah._
🔄 Alih bahasa: *Fuad Hasan bin Mukiyi*, _8 Shofar 1438 Hijriyyah._
==== Bagian 1⃣ ====
الحمد لله عدد خلقه، ورضا نفسه، وزنة عرشه، ومداد كلماته والصلاة والسلام على رسول الله وآله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، أما بعد:
Setelah adanya permintaan dan keinginan dari saudara-saudaraku para penuntut ‘ilmu untuk menggoreskan pena tentang biografi dan perjalanan hidupku ketika menuntut ‘ilmu, maka akupun menyambut permintaan mereka untuk menuliskan beberapa dari hal tersebut, aku katakan:
*[ NASAB BELIAU ]*
Adapun tentang nasabku, aku adalah saudara kalian: Muhammad bin ‘Ali bin Hizâm bin Ahmad bin Sa’îd bin ‘Isma’il bin ‘Ubâdi bin Al-Hâdi bin ‘Umar bin Tajiddîn, Al-Fadhlî –nisbah pada Bani Fadhl dari Qobilah Ânis, yang dimana para kakek-kakekku buyut telah berpindah semenjak 3 abad lalu, yang kemudian mereka pun menempati Ba’dân di bagian (Al-Harots), di desa Al-Mihyab, maka inilah menjadikan nisbahku ke Ba’dân disebabkan lamanya kita tinggal disitu.
*[KELAHIRAN BELIAU]*
Waktu kelahiranku adalah pada 22 Robî’ul Awwal 1400 Hijriyyah, dan akupun menghabiskan masa buian orang tua di Ba’dan selama beberapa bulan saja, yang kemudian orang tua kita membawa pindah ke kota Ibb, dan akupun tinggal dan hidup besar disitu, yang itu adalah awal tempat tumbuh besarku.
*[AWAL BELAJAR]*
Setelah umur baligh dan tamyizku, Bapakku pun memasukkan aku ke Ma’had Al-‘Ilmî yang ketika itu dikelola oleh Ustadz Al-Fâdhil Ahmad Ar-Rôsyidi –semoga Allôh merohmatinya-, yang ketika itu adalah sebaik-baiknya Madrosah Hukumiyyah yang ada waktu itu. Kepala sekolah ketika waktu itu adalah termasuk alumni dari Al-Jami’âh Islamiyyah, dan ia pun mengetahui tentang Syaikhuna Al-Imâm Muqbil bin Hâdi Al-Wâdi’i rohimahullôh.
Pada Ma’had ini telah ditambahkan pelajaran tambahan melebihi kurikulum dari Menteri Pendidikan, maka kita pun mempelajari Qiro’ah dan Kitabah, serta beberapa pelajaran ‘ilmu syari’at. Adapun pelajaran yang telah ditetapkan di Ma’had ini adalah menghafalkan Al-Qur’an Al-Karim, “Kitâbut Tauhîd” oleh Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb, “Al-Ajrumiyyah”, “Ar-Rohabiyyah”, “Mandzûmah Al-‘Imrithî”, “Mandzûmah Al-Baiqûni” yang disesuaikan dengan jenjang masing-masing.
*[AWAL PERTUMBUHAN BELIAU]*
Termasuk dari nikmat Allôh yang Mulia kepadaku dan bagiNyalah segala puji yang sempurna, yang telah menjadikan kecintaan pada hatiku ini keimanan, ‘ilmu bermanfa’at dan amal sholih dari semenjak aku kecil. Maha suci Robbku, aku tidaklah membatasi pujian kepada Allôh, sebagaimana Dia memuji DiriNya Azza wa Jalla yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Akupun telah tumbuh dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla dilingkup keluarga yang mengenal Sunnah, serta menjaga daripada kewajiban yang Allôh wajibkan. Allôh telah memberikan karunia kepada kedua orang tuaku untuk senantiasa menjaga kewajiban-kewajiban agama, yang paling terpenting daripada itu adalah sholat lima waktu, maka akupun tumbuh dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla diatas kebaikan ini, semoga Allôh mengampuni keduanya dan merohmatinya sebagaimana mereka mendidikku sewaktu kecil.
Bapakku dulu –semoga Allôh mengampuninya- memerintahkan kepada kita untuk menjaga sholat lima waktu secara berjama’ah, bahkan juga dalam permasalahan menjaga sholat rowatib.
Dan termasuk dari keutaamaan Allôh Azza wa Jalla adalah Allôh jadian fitroh kami untuk membenci hiziyyah dan perpecahan diantara kaum muslimin, yang dengannya kita tidaklah bergabung dengan sesuatu apapun dari jama’ah-jama’ah yang menyelisihi Sunnah.
Dan sungguh pernah terjadi suatu kejadian yang dimana ada yang pernah ingin menggaet dan mengincar diriku sebagian orang-orang Ikhwanul Muflisin dan para pengikutnya dalam keadaan umurku masih sangat muda yaitu sekitar umur 14 tahun, akan tetapi Allôh selamatkan diriku dari mereka dan dari kebid’ahan mereka; semuanya itu karena keutamaan dan karunia Allôh.
Aku dahulu amatlah menyukai majlis taushiyah dan halqoh-halqoh ‘ilmu, maka akupun menghadirinya tanpa pilih-pilih, antara Ahlus Sunnah dan yang selain mereka pada waktu itu.
Akupun mulai memilih-milih antara dakwah yang ada dan mengetahui Sunnah dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla melalui polesan tangan Syaikhuna Imam Muqbil bin Hâdi Al-Wâdi’i rohimahullôh, yang beliau pernah berziarah di kota Ibb pada tahun 1414 Hijriyyah serta memberikan muhadhoroh di masjid An-Nûr, di kota Ibb, Yaman; maka kami pun mengambil faedah dari beliau serta mengetahui dakwahnya, dan kamipun juga menghadiri pelajaran sebagian para Tholabul ‘ilmi yang telah belajar beberapa bulan di sisi beliau.
Kemudian Allôh mudahkan bagi kita untuk mengunjungi Darul Hadîts Dammâj ketika ‘Iedul Adha pada tahun 1414 Hijriyyah bersama rombongan besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kota Ibb, kami pun singgah di sana selama dua hari atau tiga hari, kemudian kita pun kembali ke kota kami dan kami pun merasakan manisnya Sunnah dan al-Haq.
==== Bagian 2⃣ ====
*[AWAL RIHLAH DI SISI IMAM AL-WADI’I]*
Kemudian aku lewati beberapa bulan untuk belajar di madrosah Hukumiyyah sampai datang waktu liburan musim panas, maka akupun beranjak pergi safar ketika umur 15 tahun pada awal tahun 1415 Hijriyyah, maka akupun menetap di sana selama dua bulan setengah di sisi Imam Al-Wadi’i rohimahullôh wa rodhiya ‘anhu.
Kami pun menetap dalam waktu singkat di sisi Imam tersebut serta mengambil faedah dari beliau dan kamipun mendapatkan ilmu itu sebuah kelezatan yang tidaklah menyamai dunia ini. Akupun ketika waktu itu telah menghafal sebagian sesuatu dari Al-Qur’an, karena sebelumnya aku tidaklah menghafalkan sebelum aku rihlah kecuali hanya 2 Juz dari Juz Tabarok dan ‘Amma. Dan dalam waktu dua bulan tadi akupun mampu mencapai hafalan Al-Qur’an sampai pada surat Yasin –dengan keutamaan dari Allôh Azza wa Jalla-. Aku pun juga menghadiri sebagian pelajaran ringan pada bidang Tauhid, Nahwu, Mustholah yang dibuka sebagian para Thullab Syaikh rohimahullôh.
*[MENUNTUT ‘ILMU DI IBB]*
Ketika waktu yang dimana aku singgah di Dammâj, singgahlah Asy-Syaikh ‘Abdul Mushowwir Al-‘Arûmi rohimahullôh dari Dammâj menuju ke Ibb untuk mengajarkan para Penuntut ‘Ilmi di sana. Maka beliau pun menegakkan kegiatan dakwah di Masjid kecil di Musyinnah, dan dimulailah pelajaran disana.
Maka setelah aku kembali dari Dammâj, akupun rutin untuk mendatangi ke masjid ini dengan maksud tujuan mengambil ilmu di sana dan menyambung untuk menghafalkan Al-Qur’an.
Kami pun mengambil ‘ilmu dari Asy-Syaikh ‘Abdul Mushowwir Al-‘Arûmi rohimahullôh sebagian pelajaran dari Shohih Al-Bukhôri, Tafsir, Aqidah Al-Washitiyyah. Dan Syaikh rohimahullôh memberikan semangat kepada para Thullab untuk menghafalkan dan menyampaikannya.
Kita pun tinggal selama dua tahun di masjid Musyinnah, kemudian setelah itu dibangunlah masjid Asy-Syaikh ‘Abdul Mushowwir pada tahun 1417 Hijriyyah, dan dinamakan dengan Masjid As-Sunnah di Sya’ab Al-Munail.
Pada tahun ini 1417 Hijriyyah, telah berziaroh kepada kita Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I rohimahullôh untuk kedua kalinya di kota Ibb, serta memberikan muhadhoroh di tanah lapang ‘Ied dikarenakan masjid-masjid ketika itu tidaklah mampu menampung para hadirin yang datang, kemudian beliau memberikan ceramah setelah sholat Fajr di masjid Sunnah di tempatnya Asy-Syaikh ‘Abdul Mushowwir rohimahullôh.
*[ZIARAH KE DARUL HADITS DAMMAJ]*
Pada tahun 1417 Hijriyyah, Allôh Azza wa Jalla memudahkan untukku untuk ziyaroh kedua kalinya ke Darul Hadits Dammâj bersama sebagian ikhwah selama dua hari, kemudian kami pun pergi lagi.
*[KEGIATAN ILMU DI IBB]*
Kami pun melewati waktu 3 tahun untuk mengambil beberapa pelajaran dari Asy-Syaikh ‘Abdul Mushowwir, dan kami pun tidaklah bisa menfokuskan diri untuk ‘ilmu disebabkan adanya madrosah Hukumiyyah dari satu sisi, dan sisi lainnya adalah sebagian pekerjaan dunia yang dimana kita membantu orang tua untuk membantu bapak untuk mencari nafkah.
Maka pada rentang waktu tersebut, telah dimudahkan bagiku untuk mengambil beberapa pelajaran dalam tajwid, Ushûl Fiqih dan Mushtholah. Dan aku juga menghafalkan padanya ‘Umdatul Ahkâm, Mandzûmah Al-‘Imrithi dalam “Ushûl Fiqih, Mandzûmah Al-Baiqûni dalam “Mushtholahul Hadîts” dan Mandzûmatul Ar-Rohabiyyah dalam “Al-Farô’idh”.
*[PENGKHATAMAN HAFALAN AL-QUR’AN DAN AL-HADITS]*
Pada tahun 1417 Hijriyyah, Allôh mudahkan bagiku untuk menyelesaikan hafalan ‘Umdatul Ahkâm.
Pada hari Jum’ah 12 Dzul Qo’dah 1417 Hijriyyah, akupun menyelesaikan hafalan Al-Qur’an Al-Karim, yang aku hafalkan secara bertahap dalam beberapa tahun.
Maka aku pun memulai untuk menghafal “Bulûghul Marôm min Adillatil Ahkâm” oleh Al-Hâfidz Ibnu Hajar rohim ahullôh sampai mendekati sepertiganya.
==== Bagian 3⃣ ====
*[MENETAP DI DARUL HADITS DAMMAJ]*
Pada awal tahun 1418 Hijriyyah, kita telah lulus dari Madrosah Hukumiyyah. Yang dimana kita sudah sangat merindukan untuk rihlah mencari ‘ilmu di Darul Hadits Dammâj, maka kami pun langsung rihlah setelah selesai dari madrosah Hukumiyyah menuju tempat bagus tersebut, yang dimana Allôh jadikan manfaat dengannya bagi Islam dan Muslimin.
Kami pun sampai ke tempat yang penuh berkah ini dengan niat untuk tinggal terus agar mencari ‘ilmu dan mengasingkan diri dari dunia dan ahlud dunya. Sampailah kami ke Dammaj bertepatan pada malam jum’at 29 Shofar 1418 Hijriyyah Nabawiyyah.
Ketika kita sampai ke Darul Hadits Dammaj, kami pun mendapati kelezatan ‘ilmu dan Iman, dan kami pun mendapati kelapangan dada, tenangnya jiwa dan kami pun mendapatkan bahwa ilmu ini kelezatannya tidaklah berbanding dengan dunia.
Kami pun sampai ke Imam Muhaddits, Mujaddid yang memiliki kedududukan agung, yang telah mengorbankan umurnya untuk melayani agama ini, serta mengorbankan waktunya untuk ‘ilmu dan ta’lim. Kedua mataku ini belumlah melihat sosok yang zuhud di dunia yang semisal dengan beliau. Beliau amatlah tawadhu serta peduli kepada para thullab dan anak-anaknya, memegang kebenaran dan lantang dalam menyampaikan kebenaran disertai dengan hikmah dan nasehat, jujur dan ikhlash, memiliki kecemburan terhadap al-Haq dan Sunnah, duduk bermajlis secara umum maupun khusus yang hidup dengan ‘ilmu, ta’lim, pertanyaan ‘ilmiyyah; terutama dalam ‘ilmu hadits, ‘ilmu Rijal, ‘ilmu nahwu dan yang lainnya dari ‘ilmu-‘ilmu syari’at.
*[RENTANG WAKTU DAN PELAJARAN YANG DIAMBIL DARI IMAM AL-WADI’I]*
Aku pun tinggal duduk bersimpuh di halqoh-halqohnya Imam Al-Mujaddid ini selama rentang waktu 3 tahun, kami pun mengambil faedah dari ‘ilmunya dan dari akhlaqnya yang mulia.
Kami pun mengambil dari beliau “Shohih Al-Bukhôri”, “Shohih Muslim”, “Al-Jâmi’us Shohîh mimma laisa fis Shohihain”, “Tafsir Ibnu Katsîr”, “Mustadrok Al-Hâkim”, “Ash-Shohih Al-Musnad min Dalâ’il Nubuwwah”, “Al-Jâmi’us Shohih fiel Qodr”, dan beliau juga membacakan kepada kita “Ghôrotul Fishol” dan kitab “Dzammul Mas’alah”.
Kami pun mengambil faedah dari Syaikh suatu ‘ilmu yang banyak dalam halqohnya yang penuh berkah dalam ‘ilmu hadits, fiqih, aqidah shohihah, manhaj shohih, serta kokoh dalam memegangnya dan kami pun mengambil faedah dari akhlaqnya yang agung.
Pada tahun pertama kedatanganku ke Tempat yang penuh barokah ini (1418 H), aku pun menfokuskan untuk memutqinkan Al-Qur’an serta aku selesaikan hafalan Bulughûl Marôm dengan saling setor dengan sebagian ikhwa para penuntut ‘ilmu. Kemudian aku menyelesaikan dari menghafal Bulughul Marom pada hari Jum’at 3 Jumadal Al-Ula 1418 Hijriyyah Nabawiyyah.
Pada hari Rabu 22 Jumadal Ula 1418 Hijriyyah, aku pun memulai menghafal “Riyâdhus Shôlihin min Kalâmi Sayyidil Mursalîn” oleh Imam An-Nawawi. Aku menargetkan untuk bisa menyelasaikannya sampai akhir bulan Romadhon dari tahun ini, maka aku pun bisa memenuhi target dengan keutaamaan Allôh dan taufiqnya, akan tetapi tidaklah mencapai tingkat kemutqinan yang memadai pada akhir-akhir kitab disebabkan tergesa-gesa. Maka tercapailah kemutqinannya setelah bulan Romadhon ketika dimuroja’ah kembali dengan keutamaan Allôh Al-Mannân Al-Karîm Ar-Rohmân.
Pada tahun 1418 Hijriyyah, aku pun fokus untuk menghafalkan serta mencukupkan diriku dengan pelajaran umum yang diberikan oleh Syaikhuna Al-Imam Al-Wâdi’i. Dan tidaklah aku mengambil untuk pelajaran-pelajaran yang khusus yang dibuka waktu itu.
Akan tetapi aku hanyalah mengambil beberapa pelajaran pada “Ad-Darôri Al-Mudhiyyah” pada sebagian bab Thoharoh dan Sholat.
Akupun juga membaca syarah-syarahnya Imam Al-‘Utsaimîn pada “Ushûl Tsalâtsah” dan “Kasyfus Syubhât”.
Akupun juga menelaah pada sebagian kitab syarah-syarah hadits seperti; “Subulus Salâm”, “Syarah Riyâdhus Shôlihin”, dan terkadang di Syarah Shohih Muslim oleh An-Nawawi dan Fathul Bâri oleh Ibnu Hajar rohimahumallôh. Serta beberapa kitab yang berkaitan dengan Roqô’iq seperti kitab “Al-Fawâid” oleh Ibnul Qoyyim, dan Al-Jawâbul Kâfi oleh miliknya beliau juga.
Akupun juga membaca kitab “Daf’ul Ihâm wal Idhthirôb ‘an Ayatil Kitâb” oleh Imam Asy-Syinqithi.
==== Bagian 4⃣ ====
Pada tahun yang penuh dengan berkah ini (1418 Hijriyyah) Allôh limpahkan nikmat kepadaku dengan perkenalan bersama saudaraku yang mulia, serta Syaikhku yang cerdas, sang pemberi nasehat lagi dermawan; Asy-Syaikh Abu Khôlid Surûr bin Ahmad bin Mu’ayyidh Al-Wâdi’i Al-Khollâl Al-Bûni hafidzohullôh wa ro’âhu, Allôh jadikan pada hatinya kasih sayang, penyantunan dan kecintaan yang mendalam kepadaku, yang hal tersebut menjadikannya selalu menolong diriku untuk menuntut ‘ilmu dengan segala sesuatu yang ia punyai dari hal nasehat yang tepat serta arahan yang terpuji dan meluangkan waktu yang amat banyak untuk menyetorkan hafalan kepadanya. Begitu juga menjauhkan diriku dari teman duduk yang jelek dari orang yang mendekat kepadaku dan menaruh perhatian kepadaku dengan diri dan hartanya, maka ia pun memperlakukan dan menasehati diriku lebih besar perhatiannya daripada perhatian seorang bapak kepada anaknya, semoga Allôh membalas diriku dengan kebaikan yang dibalaskan kepada orang-orang pemberi nasehat, dan aku juga meminta kepada Allôh untuk menjaganya serta memeliharanya dan memalingkan darinya segala kejelekan Dunia dan akhirat, dan menjadikan sejuk kedua matanya di kehidupan dunia ini serta hari yang dimana dipersaksikan saksi. Aku juga meminta kepadaNya subhanahu agar diberikan berkah baginya pada keluarga, harta, anak-anaknya dan pada rizqinya dan pemberiannya. Aku juga meminta kepadaNya subhanahu agar kami dan dia diselamatkan dari fitnah ketika hidup maupun setelah mati, dan agar kita dikokohkan di atas agamanya sampai hari kita bertemu denganNya.
Pada tahun 1419 Hijriyyah, akupun menfokuskan diri untuk muroja’ah Riyâdhus Shôlihîn, Bulûghul Marôm dan ‘Umdatul Ahkâm serta memutqinkannya.
Maka pada tahun ini (1419 Hiriyyah) akupun mengambil beberapa pelajaran pada mushtholah hadits dan Ushûl Fiqih. Maka kami pun membaca kitab “Nuzhatun Nadzor”, At-Taqyîd wal Idhôh”, Dhowâbith Jarh wat Ta’dîl” bersama para Thullâbul ‘Ilmi dari Libya, semoga Allôh membalas mereka dengan kebaikan. Dan kitab “Mudzakkiroh fie Ushûl Fiqh” oleh Asy-Syinqithî bersama dengan sebagian Thullâbul ‘ilmi dari Yaman.
Pada tahun 1419 Hijriyyah, akupun menghafalkan Alfiyah Ibnu Mâlik tetang masalah Nahwu dan Shorof, Alfiyah Al-‘irôqi dalam bidang Mustholah Hadits bersama saudaraku yang mulia Surûr Al-Wâdi’î hafidzohullôh wa ro’ahu.
Pada tahun 1419 Hijriyyah, aku membaca kitab “Asy-Syarî’ah” oleh Ajurri, Iqtidhô’us Shirôtol Mustaqîm, dan aku telah juga membaca hampir keseluruhan dari kitab “Al-I’tishôm” oleh Asy-Syâthibi. Aku juga membaca pada syarahnya Alfiyah Al-‘Irôqi oleh As-Sakhôwi, dan pada “Tadrîbur Rôwi” miliknya As-Suyûthi –semoga Allôh merohmati mereka semua-.
Pada tahun ini juga, aku ada acara ziyaroh ke kota Ibb. Akupun mengajarkan di masjid Sunnah pelajaran Lâmiyah Syaikhil Islâm pada 10 sehari terakhir di bulan Romadhôn. Kemudian setelah itu Allôh mudahkan setelah itu dengan menulis syarah dan ringkasan inti dari padanya kemudian dikeluarkan untuk disebar luaskan kepada kaum muslimin.
Pada bulan Dzul Hijjah 1419 Hijriyyah, akupun memulai menghafalkan Shohih Muslim, bersama dengan saudaraku yang mulian Surûr bin Ahmad Al-Wâdi’i hafidzohullôh wa ro’ahu. Akupun terus melanjutkan untuk menghafalkannya disertai dengan muroja’ah Bulughul Marôm dan Riyâdhus Shôlihin bersamanya sampai aku bisa menyelesaikannya dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla dari menghafalkan Shohih Muslim pada hari Selasa 28 Romadhon 1420 Hijriyyah.
*[MUTHOLA’AH DAN PENGAJARAN KITAB-KITAB ‘ULAMA]*
Pada tahun 1420 Hijriyyah, aku mencari siapa yang bisa mengajariku pada Syarah Ath-Thohawiyyah oleh Ibnu Abil Izz, maka akupun tidak mendapati seorang pun mengajarkannya, maka akupun bertekad untuk membaca sendiri Syarahnya, maka itupun dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla. Kemudian aku selesai dari membaca kitab tadi pada 29 Sya’bân 1420 Hijriyyah. Kemudian aku membaca kitab untuk kedua kalinya pada tahun 1422 Hijriyyah dan akupun menyelesaikan membacanya pada tahun ini, dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla. Adapun apa yang bagiku masih menjadi isykal pada Syarh Ibnu Abil Izz, aku melihat kembali kepada kalamnya Ahlul ‘Ilmi di kitab-kitab Aqidah, maka Allôh pun bukakan bagiku dengan keutamaan dan karunianya hal kebaikan yang amat banyak.
Pada tahun 1420-1421 Hijriyyah, aku membaca Syarh Muslim, oleh An-Nawawi rohimahullôh, penyelesaian membaca kitab dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla pada bulan Robî’ul Akhir 1421 Hijroh Nabawiyah.
Pada tahun 1421 Hijriyyah, aku membaca sendiri kitab tafsir “Ibnu Katsîr”, akupun melewati seluruh kitab secara lengkap kecuali aku memang meninggalkan Isroiliyyât, dan meninggalkan juga membaca jalur-jalur hadits yang disebutkan Ibnu Katsir, agar lebih mudah bagiku untuk melewati membaca kitab yang penuh berkah tersebut.
Pada tahun 1421 Hijriyyah, aku membuka sebagian pelajaran bagi saudara-saudaraku para penuntut ‘ilmu, akupun mengajarkan kitab “Al-Wâshitiyyah” oleh Al-Harrôs, dan akupun membuka juga pelajaran pada “Ikhtishôr ‘Ulûmil Hadits” oleh Ibnu Katsir rohimahullôh. Kemudian pada akhir tahun 1421 Hijriyyah serta awal daripada tahun 1422 Hijriyyah, aku membuka pelajaran “Nuzhatun Nadzor” oleh Al-Hâfidz Ibnu Hajar rohimahullôh, kemudian setelahnya pelajaran kitab “Dhowâbith Jarh wat Ta’dîl”. Dan wafatlah Syaikhuna rohimahullôh dalam keadaan kita mengajarkan pada kitab ini, maka semoga Allôh merohmatinya dengan rohmat yang luas.
Pada tahun 1421 – 1422 Hijriyyah, aku membaca 5 jilid dari kitab “Irwaûl Gholîl” dan dua jilid dari “Silsilah Ash-Shohihah”. Maksud tujuan dari hal itu adalah mengambil faedah dari Imam Al-Albâni serta mengenali metode beliau dalam menggabungkan jalur periwayatan hadits dan menghukumi hadits, maka akupun banyak mengambil faedah dari hal tersebut, karena metode praktek sangatlah bermanfaat bagi penuntut ‘ilmu daripada metode teori saja, maka dari hal itu aku mengetahui tentang kitab-kitab takhrij dan ‘ilal yang dinukilkan Imam Al-Albâni serta mengambil faedah darinya. Aku pun mengenal dengan kitab-kitabnya para muhadditsun, dan akupun mulai mendalami membahas hadits serta mengumpulkan jalur-jalur periwayatannya, segala puji bagi Allôh atas apa yang Dia ilhamkan dan ajarkan.
==== Bagian 5⃣ ====
*[WAFATNYA ASY-SYAIKH MUQBIL BIN HADI AL-WADI’I]*
Pada tahun 1422 Hijriyyah, malam ahad yang bertepatan 1 Jumadal Ula setelah terbenamnya matahari hari Sabtu, telah meninggal Syaikhuna Al-Imâm Al-Mujaddid Muqbil bin Hâdi Al-Wâdi’i rohimahullôh, setelah beliau meninggalkan kita selama 1 tahun penuh. Beliau rohimahullôh berpisah dengan kita dari Dârul Hadits Dammâj pada Fajr hari Ahad 15 Robî’ul Awal 1421 Hijroh Nabawiyah. Yang beliau berpindah untuk berobat pada tahun tersebut ke Saudi, kemudian ke Amerika, kemudian ke Jerman, kemudian dimudahkan baginya untuk umroh pada Romadhon dan berhaji pada tahun tersebut, semoga Allôh merohmati beliau dengan rohmat yang luas.
Kemudian beliau mewasiatkan untuk duduk dikursinya dan markaznya Dârul Hadits kepada Syaikhuna al-Jalîl An-Nâshih Al-Amîn (penasehat yang terpercaya), yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya; fadhilatusy Syaikh Abî ‘Abdirrohmân Yahya bin ‘Ali Al-Hajûri –hafidzohullôh wa ‘âfâhu, maka beliau pun mengurusi dengan sebaik-baiknya Dârul Hadîts, Allôh Azza wa Jalla pun jadikan bermanfaat dengan beliau bagi Islam dan Muslimin.
*[ISTIFADAH DARI SYAIKHUNA YAHYA AL-HAJURI]*
Kita telah bermulazamah bersama Syaikhuna Yahya Al-Hajûri hafidzohullôh wa ‘âfâhu dan mengambil dari beliau semua pelajarannya yang beliau sampaikan di atas kursinya semenjak tahun 1421 Hijriyyah sampai tahun yang dimana kita keluar dari Darul Hadits secara terdzolimi dan tertindas pada hari Rabu 14 Robî’ul Awwal 1435 Hijriyyah, semoga Allôh memperlakukan dengan setimpal kepada orang-orang yang mengeluarkan kami dengan keadilanNya dan Dialah sebaik-sebaik pemberi keputusan.
Kami pun banyak mengambil faedah dari Syaikhuna Yahya Al-Hajûri hafidzohullôh, dari nasehat maupun dari arahan-arahanya yang amatlah begitu banyak. Semoga Allôh mensyukuri jerih payah beliau dan membalas bagi kita dan beliau serta kaum segenap kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.
Termasuk dari apa-apa yang beliau ajarkan kepada kita adalah “Shohih Al-Bukhôri”, “Shohih Muslim”, “Al-Jâmi’us Shohih mimma laisa fie Shohihain”, “Tafsîr Ibnu Katsîr”, “Sunan as-Sughrô” oleh Al-Baihaqi, “Ar-Risâlah Al-Wâfiyah” oelh Ad-Dâni, “Al-‘Aqîdah Al-Wâshithiyyah”, “Muqoddimah Sunan Ad-Dârimi”, Akhlâqul ‘Ulamâ” oleh Al-Ajurri, Iqtidhô’ Shirôtil Mustaqîm, “Lâmiyah Ibnul Wardi”, “Jâmi’ Bâyanil ‘Ilmi wa fadhlihi” oleh Ibnu ‘Abdil Barr, dan yang lainnya dari pelajaran ‘ilmu, semoga Allôh membalas beliau dengan sebaik-baik balasan serta mengkokohkan kami dan beliau di atas al-haq dan as-sunnah sampai kita bertemu denganNya.
*[AWAL KITAB KARANGAN BELIAU]*
Pada tahun 1422 Hijriyyah bulan Rojab, Allôh memberikan karunia kepadaku dengan mengarang kitab “Ithâful Anâm bi ahkâmi wa masâ’il Shiyâm” disertai dengan pengajarannya bersama para saudara-saudaraku para penuntut ‘ilmu. Awal permulaannya adalah ketika mensyarah kitab Shiyâm dari kitab “Bulûghul Marôm” kemudian setelah itu saya rapikan dan urutkan dengan susunan yang teratur, maka itu adalah awal kitab yang Allôh berikan karunia padaku untuk mengarangnya, kemudian setelah itu dikoreksi dan dicetak dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla.
Keterangan Gambar :
Sampul kitab yang pertama kali dikarang syaikh ibn hizam pada tahun 1422 Hijriyyah bulan Rojab, dengan judul
“Ithâful Anâm bi ahkâmi wa masâ’il Shiyâm”
==== Bagian 6⃣ ====
[TAHQIQ DAN MUTHOLA’AH KITAB-KITAB]
Pada tahun 1422 Hijriyyah, aku membaca kitab “Majmû Fatâwa” oleh Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah, maka akupun melewati membaca seluruhnya dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla, akan tetapi aku meninggalkan membaca ‘ilmu kalam dan manthiq serta diskusi terhadap ucapan-ucapan para Ahli Filsafat dikarenakan sulitnya hal tersebut bagiku ketika itu dan kurangnya faedah darinya.
Pada tahun 1422 Hijriyyah, Syaikhuna Yahya menyodorkan kepada para Thullâbul ‘ilmi untuk mensyarah bait syi’irnya As-Suyuthi dalam hal “Mansûkhil Qur’an”, maka akupun memilih pembahasan ini dan akupun syarah dalam rentang waktu beberapa pekan, maka Allôh mudahkan untuk melengkapinya dan aku namakan: “Fathul Mannân fiema shohha min mansûkhil Qur’an”.
Syaikhuna Yahya hafidzohullôh juga menyodorkan kepada para penuntut ‘ilmu untuk mentahqiq athul Bâri oleh Al-Hâfidz Ibnu Hajar. Maka ketika itu dibagi tugas kepada para penuntut ‘ilmu untuk mentahqiqnya, akupun memilih juz ke-9 darinya, kami pun meminta pertolongan dengan Allôh untuk mentahqiq dan mentakhrijnya, kemudian kami selesaikan tugas tersebut dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla, kami meminta kepada Allôh untuk dimudahkan mencetak dan penyebarannya.
Pada tahun 1422 Hijriyyah kemudian setelahnya 1423 Hijriyyah, aku membaca Fathul Bâri miliknya Al-Hâfidz Ibnu Hajar, maka Allôh pun memberikan kemudahan bagiku untuk membacanya sampai juz ke-6 serta sebagian dari juz ke-7. Kemudian setelah itu aku tersibukkan dari menyelesaikannya disebabkan ada amalan lainnya.
Pada tahun 1423 Hijriyyah, aku pun bertekad untuk mentahqiq, mentakhrij hadits-hadits dan atsar yang terdapat dalam kitab “Al-Mughni” oleh Ibnu Qudâmah rohimahullôh. Maka kaupun memulai mengerjakannya dengan meminta pertolongan kepada Allôh pada hari Sabtu 20 Robî’ul Awwal, segala puji bagi Allôh yang telah menunjukiku hidayah untuk mengerjakan hal ini, akupun melewati dalam pengerjaannya sesuai dengan apa yang Allôh kehendaki serta juga ada kesibukan dengan mentahqiq juz ke-9 dari Fathul Bâri pada sebagian kesempatan. Kemudian aku juga tersibukkan dengan pengajaran Bulûghul Marôm disertai pengarangan Fathul ‘Allâm.
Maka dalam mentahqiq “Al-Mughni” ini memakan waktu yang lama, karena aku terputus-putus dalam pengerjaannya.
Maka pada tahun 1428 Hijriyyah, ketika aku melihat terbengkalainya diri saya untuk mengerjakan proyek tahqiq kitab, akupun mengajak bekerja sama dengan dua saudara dari para muridku, kemudian kita meminta pertolongan dengan Allôh untuk melaksanakan tugas tersebut sampai kami pun bisa menyelesaikannya dengan keutamaan dari Allôh pada tahun 1436 Hijriyyah, dulu yang menyebabkan terbengkalainya adalah disebabkan apa yang terjadi di Yaman dari berkecamuknya fitnah dan perang.
==== Bagian 7⃣====
*[SYAIKHUNA MEMBUKA PELAJARAN BAGI IKHWAH]*
Pada tahun 1423 Hijriyyah, aku mengajarkan kepada saudara-saudaraku ‘”Aqîdah Al-Wâshitiyyah” dengan syarah Al-Harrôs rohimahullôh.
Pada tahun 1424 Hijriyyah, aku mengajarkan kepada saudara-saudaraku para penuntut ‘ilmu pelajaran “Syarh Ath-Thohawiyyah” oleh Ibnu Abil Izz, yang itu merupakan awal pertama kali aku ajarkan kitab tersebut. Kemudian aku ajarkan lagi pada kedua kalinya pada tahun 1425 Hijriyyah, kemudian aku ajarkan untuk ketiga kalinya pada tahun 1430 Hijriyyah, maka segala puji bagi Allôh atas apa yang telah diilhamkan dan diajarkan.
Pada tahun 1424 Hijriyyah, setelah menyelesaikan dari mengajarkan Syarh Thohawiyyah, Allôh memberikan karunia padaku untuk membuka pelajaran “Bulûghul Marôm min Adillatil Ahkâm” oleh Al-Hâfidz Ibnu Hajar rohimahullôh, maka akupun meneruskan dalam pengajarannya selama kurun 4 tahun, sampai membuahkan hasil dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla sebuah kitab: “Fathul ‘Allâm fie Dirôsati Ahâdîtsa Bulûghil Marôm haditsiyyan wan fiqhiyyan”. Segala puji bagi Allôh yang aku tidak bisa menghitung betapa banyak pujian atasnya.
Kemudian aku mengoreksi kembali kitab “Fathul ‘Allâm” selama kurun 4 tahun. Dan aku merapikan serta menambah lagi padanya sampai dicetak masal dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla pada cetakan pertamanya pada tahun 1432 Hijriyyah, _walhamdulillâh robbil ‘alamien_.
Pada kurun waktu 1424 – 1428 Hijriyyah, aku menghabiskan waktuku untuk mengajarkan “Bulûghul Marôm min Adillatil Ahkâm” disertai muroja’ah dengan apa yang Allôh mudahkan dari hafalan hadits nabawiyyah. Maka lewatlah hari demi hari yang penuh berkah, yang Allôh jadikan padanya kebaikan dan berkah yang agung dengan keutamaan dan rohmatnya.
*[MENGHAFALKAN AFRÔD SHOHIH IMAM AL-BUKHÔRI]*
Pada tahun 1425 pada bulan Muharrom, akupun memulai untuk menghafalkan “Afrôd Shohih Imam Al-Bukhôri” yang bersendiri meriwayatkannya dari Imam Muslim bersama dengan saudaraku yang mulia Asy-Syaikh Surûr Al-Wâdi’i hafidzohullôh. Sampai akhirnya aku pun bisa menyelesaikannya dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla pada bula Romadhôn dari tahun tersebut, disebabkan kesibukaanku denga pekerjaan lainnya.
==== Bagian 8⃣====
*[ISTIFADAH DARI MASYAIKH MADINAH]*
Pada tahun 1427 Hijriyyah, Allôh mudahkan bagiku untuk menunaikan ibadah Haji. Kami pun mengambil sebagian pelajaran selama tinggalnya kami di Madinah Nabawiyyah dari Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbâd, dari Asy-Syaikh Shôlih As-Suhaimi –‘âfâhumallôh-. Dan waktu singgah kami hanyalah 4 hari saja.
*[TAHQIQ DAN TAKHRIJ “AL-MUGHNI” OLEH IBNU QUDAMAH]*
Pada tahun 1428 Hijriyyah, aku bekerja sama bersama dengan kedua saudara kita yaitu; Kholil Al-‘Udaini dan Yusuf Asy-Syar’abi –‘âfâhumallôh- pada pengerjaan tahqiq dan takhrij hadits-hadits Al-Mughni oleh Ibnu Qudâmah rohimahullôh. Kamipun mengfokuskan pengerjaan ini seraya meminta pertolongan dengan Allôh Azza wa Jalla sampai akhirnya kita bisa menyelesaikannya pada tahun 1436 Hijriyyah. Sebab terbengkalainya pengerjaan adalah apa yang terjadi di Darul Hadits Dammaj dari ujian fitnah peperangan Rofidhoh serta pengepungan yang berlangsung selama beberapa tahun sampai akhirnya kami dikeluarkan dari Dammaj secara dzolim dan sewenang-wenang pada tanggal 14 Robi’ul Awwal 1435 Hijriyyah.
Pada tahun 1428 Hijriyyah sampai 1430 Hijriyyah, kamipun membuka pada rentang waktu tersebut beberapa mata pelajaran. Kita pun mengajarkan pada rentang waktu tersebut kitab; “Fathul Majîd”, “Syarh Mandzûmah Al-‘Imrîthî”, “Mudzakkiroh fie Ushûl Fiqh” oleh Asy-Syinqithi, “Nuzhatun Nadzor”, At-Taqyîd wal Idhôh”, “Syarh At-Thohawiyyah” oleh Ibnu Abil Izz, berbarengan dengan pengerjaan takhrij hadits-hadits yang terdapat dalam “Al-Mughni” dan muroja’ah kitab “Fathul ‘Allâm”. Dan hal tersebut juga dibarengi dengan terus menerus muroja’ah hafalan yang telah dihaal, keluar dakwah pada sebagian waktu kesempatan, segala puji bagi Allôh atas segala nikmatnya.
*[KELUAR DAKWAH DI NEGERI MALAYSIA]*
Pada tahun 1430 Hijriyyah, Allôh mudahkan bagiku untuk keluar dakwah ke negeri Malaysia. Akupun singgal tinggal di sana selama 2 pekan. Allôh mudahkan juga pada rentang waktu tersebut untuk mengajarkan pelajaran dari bab-bab Kitab Tauhid oleh Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rohimahullôh. Dan Allôh mudahkan juga pada rentang waktu selama aku tinggal singgah di sana untuk mengarang risalah dengan keutamaan Allôh dengan judul: “Dienul Islam Dienus Sa’âdah”.
==== Bagian 9⃣====
*[TAHQIQ DAN TAKHRIJ FATHUL MAJID]*
Pada tahun 1431 Hijriyyah, kitabku telah dicetak “At-Taudhîh Al-Mufied ‘ala Fathil Majîd” tahqiqon wa takhrijan wa ta’liqon. Maka akupun mengulang pengajaran kitab “Fathul Majîd untuk kedua kalinya kepada para saudara-saudaraku para penuntut ‘ilmu. Maka akupun memulai pada hari Sabtu 11 Shofar 1432 Hijriyyah, yang selesai dari pengajarannya pada hari rabu 20 Rojab 1432 Hijriyyah. Maka Allôh jadikan kebaikan dan berkah pada pengajaran tersebut. Telah direkam juga pelajaran-pelajaran tersebut pada file berbentuk suara, segala puji Allôh yang aku tidaklah bisa menghitung pujian atasnya.
*[DICETAKNYA BEBERAPA KARANGAN BELIAU]*
Pada tahun 1432 Hijriyyah, kitabku telah dicetak “Al-Mukhtâr min Ahâdits Sayyidil Abrôr fiel Mu’tadish Shohih”. Maka akupun memulai untuk mengerjakannya pada tahun tersebut sampai menyelesaikan pengajarannya selama 5 bulan. Kemudian kita menyelesaikannya dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla dan pertolongannya. Pengajaran ini membuahkan kitab “Riyâdhul Akhbâr bi Dirôsah Ahâditsil Akhbâr” dengan keutamaan Allôh Al-Wâdil Qohhâr, pemilik langit, bumi dan di antara keduanya Al-‘Aziz Al-Ghoffâr. Kitab tersebut belumlah sempurna sampai Allôh meudahkan bagiku untuk menyempurnakannya dan mengoreksinya pada tahun 1437 Hijriyyah ketika aku sudah menetap di kota Ibb, di masjid Al-Fâruq semoga Allôh menjaganya, dakwah kita dan para thullab kami dari segala kejelekan dan perkara yang tidak disukai.
Pada tahun ini juga 1432 Hijriyyah, kitabku telah dicetak “Fathul ‘Allâm bi Dirôsah Ahâdits Bulûghil Marôm” maka akupun membuka padanya pelajaran, dan kamipun bisa terus menerus dengan keutamaan Allôh Azza wa jalla sampai kami terhenti untuk pengajarannya disebabkan peperangan yang berkecamuk antara Rofidhôh dan Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah pada negeri tersebut pada tahun 1434 – 1435 Hijriyyah. Kamipun telah melewati separuh dari kitab, kemudian setelah itu kita keluar dari Darul Hadits di Dammaj. Kemudian kita lanjutkan pengajarannya kitab yang penuh berkah ini pada bulan Syawwâl 1435 Hijriyyah di masjid Al-Fâruq di kota Ibb, maka Allôh mudahkan bagi kita untuk menyelesaikannya pada 29 Sya’ban 1437 Hijriyyah, kamipun banyak mengambil faedah dari kitab yang banyak kebaikan padanya dengan keutamaan Allôh, rohmat, karunia dan ihsanNya.
Ketika aku memulai untuk mengajarkan Fathul ‘Allâm pada tahun 1432 Hijriyyah, Allôh bukakan padaku dan mengilhamkan kepadaku dengan keutamaan dan rohmatnya untuk memulai mengarang kitab “Al-Jâmi’ Ash-Shohih fiel Fiqhisy Syar’i”. Kitab ini aku menempuh metodenya para Fuqoha Muhadditsin yang mereka menggabungkan antara hadits dan fiqih, yaitu metodenya Imam Al-Bukhôri, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Abu ‘Awwanah dan selain mereka, yang mereka memberikan bab dengan hukum syar’i, kemudian menyebutkan dalil-dalil padanya, yang dimana aku telah memilih padanya pengumpulan hadits-hadits yang shohih, dan atsar shohabat –semoga Allôh meridhoi mereka-.
==== Bagian 🔟 Terakhir ====
Dan pengarangan kitab ini berbarengan dengan pengajaranku pada kitab “Fathul ‘Allâm”, sampai pada kitab “Al-Janâ’iz”, kemudian aku tidak mampu untuk melanjutkannya disertai mengajar “Fathul ‘Allam”. Maka akupun mencukupkan mengajarkan “Fathul ‘Allam”. Aku meminta kepada Allôh Al-Karim Al-Mannân untuk memudahkan bagiku untuk melanjutkan pengarangan kitab tersebut, dan memberikan karunia padaku untuk menyelesaikannya, dan menjadikan bermanfaat dengannya bagi Islam dan muslimin.
Dan apabila Allôh memberikan karunia padaku untuk menyempurnakan kitab ini, maka aku menganggap ini termasuk dari sebesar-besarnya karomah yang Robbku Azza wa Jalla muliakan diriku dengannya. Aku meminta kepada Allôh Al-‘Adzim dzal Jalâli wal Ikrôm Al-Hayy Al-Qoyyûm, yang tidak ada sesembahan selainnya dan tidak pula Robb selainNya untuk memudahkan bagi untuk menyelesaikannya perkara besar ini yang aku berharap menjadi _marja’_ (pedoman) bagi ‘Ulama dan para penuntut ‘ilmu dan segenap umat. Dan perkiraannya kitab tersebut bisa melebihi 10 jilid, Ya Allôh muliakanlah diriku dengan kebaikan ini, mudahkanlah bagi untuk menempuhnya dengan rohamatMu dan KaruniaMu Ya Arhamur Rôhimin.
*[PERJALANAN DAKWAH DI IBB]*
Setelah kita keluar dari Dammaj pada hari Rabu 14 Robî’ul Awwal 1435 Hijriyyah sampai tahun 1437 Hijriyyah, kami tinggal di masjid Al-Fâruq di desa Ablân/ Adz-Dzihar/ Ibb. Dan terjadilah kebaikan yang amat banyak pada rentang waktu tersebut dari pelajaran-pelajaran bermanfaat dan dakwah yang penuh berkah pada negeri ini yang tidaklah didapati dakwah dari segi penyebaran dan kekuatannya sebagaimana apa yang terjadi seperti pada hari-hari yang penuh berkah ini dengan keutamaan dan karunia Allôh Azza wa Jalla. Tidaklah disebabkan daya upaya dari kita dan tidak pula dengan kekuatan, tidak pula dengan kecerdasan dan tidak pula giatnya kita, akan tetapi itu adalah keutamaan Allôh Azza wa Jalla dan rohmatnya.
فَلِلَّهِ الحَمْدُ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيهِ، فَهُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ،
وَالحَمدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيكَ.
Ditulis: *Abû ‘Abdillâh Muhammad bin ‘Ali bin Hizâm Al-Fadhli Al-Ba’dâni.*
Selesai ditulis tulisan ringkas ini pada hari Jum’at 17 Syawwâl 1437 dari Hijroh Nabawiyah.
Alih bahasa: Fuad Hasan bin Mukiyi, 8 Shofar 1438 Hijriyyah.
*PERHATIAN*: Judul dalam kurung adalah tambahan dari penerjemah.
=== *Selesai* ===
======
📃 Baca Keseluruhan Kisah Beliau di
⤵️⤵️⤵️
http://bit.do/binhizamind
